Mengenal Growth Mindset: Cara Mengajarkan Anak bahwa Kemampuan Bisa Dilatih
Setiap anak pasti pernah menghadapi pelajaran yang terasa sulit. Ada anak yang terus mencoba hingga akhirnya paham, namun ada juga yang memilih menyerah lebih awal. Setelah mendapat nilai ulangan yang kurang memuaskan, ia menutup buku dan menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak pintar di pelajaran tersebut. Keesokan harinya, ia enggan mengerjakan latihan soal karena merasa usahanya akan percuma.
Sekilas, sikap ini terlihat seperti rasa kecewa biasa. Namun jika dibiarkan, anggapan tersebut bisa membuat anak berhenti mencoba, karena ia percaya bahwa kemampuannya sudah “dari sananya” dan tidak bisa diubah.
Cara pandang seperti ini dikenal dengan istilah fixed mindset atau pola pikir tetap. Sebaliknya, anak dengan growth mindset atau pola pikir bertumbuh percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan strategi belajar yang tepat. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carol Dweck dan kini banyak diteliti di dunia pendidikan, termasuk di Indonesia.
Di SDN 1 Kembang Sari dilakukan penelitian dan ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara growth mindset dengan prestasi akademik siswa. Temuan serupa juga muncul pada jenjang yang lebih tinggi. Terdapat pula penelitian terhadap 136 siswa SMK Negeri 7 Medan menunjukkan bahwa growth mindset berpengaruh positif terhadap hasil belajar.
Kabar baiknya, growth mindset bukan bawaan lahir. Pola pikir ini dapat ditumbuhkan, dan orang tua memiliki peran besar di dalamnya. Lalu, bagaimana caranya? Berikut enam langkah yang dapat dicoba di rumah.
1. Ubah Cara Memuji Anak
Kalimat “wah, anak mama pintar!” terdengar menyenangkan, namun tanpa disadari bisa menanamkan anggapan bahwa keberhasilan berasal dari bakat semata. Akibatnya, ketika suatu saat anak gagal, ia bisa menyimpulkan bahwa dirinya “tidak pintar lagi”. Cobalah mengarahkan pujian pada usaha dan strategi yang digunakan anak, misalnya “kamu tadi nyoba cari cara lain waktu cara yang kamu tau ga berhasil. Bagus nak!”. Pujian seperti ini mengajarkan anak bahwa hasil yang baik datang dari proses yang ia jalani.
2. Kenalkan Kekuatan Kata “Belum”
Satu kata sederhana dapat mengubah cara anak memandang kemampuannya. Ketika anak berkata “aku nggak bisa”, ajak ia menambahkan kata “belum” di dalamnya, menjadi “aku belum bisa”. Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi kata “belum” memberi pesan bahwa kemampuan tersebut masih bisa dicapai dengan latihan. Orang tua juga dapat membiasakan kalimat ini, misalnya “kamu belum hafal perkalian tujuh, tapi minggu lalu kamu juga belum hafal perkalian enam, kan?”
3. Jadikan Kesalahan sebagai Bahan Belajar
Anak dengan fixed mindset cenderung menghindari kesalahan karena menganggapnya sebagai bukti bahwa ia tidak mampu. Padahal, kemampuan untuk bangkit dari kesalahan sangat dibutuhkan dalam belajar. Penelitian Ferdi dan rekan-rekannya (2026) terhadap 220 siswa SMA di Kota Tasikmalaya menemukan bahwa growth mindset berpengaruh positif terhadap resiliensi akademik, yaitu kemampuan siswa untuk tetap bertahan dan bangkit ketika menghadapi kesulitan belajar.
Ketika anak salah mengerjakan soal, cobalah bertanya “apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan ini?” atau “bagian mana yang perlu dicoba dengan cara berbeda?”. Dengan begitu, kesalahan tidak lagi menjadi hal yang menakutkan, melainkan petunjuk untuk memperbaiki diri.
4. Jelaskan bahwa Otak Bisa Berkembang
Anak sering kali lebih mudah memahami sesuatu melalui perumpamaan. Orang tua dapat menjelaskan bahwa otak bekerja seperti otot. Semakin sering dilatih, semakin kuat pula kemampuannya. Sama seperti anak yang awalnya belum bisa bersepeda lalu lancar setelah berlatih berkali-kali, kemampuan memahami pelajaran juga bisa berkembang dengan cara yang sama. Pemahaman seperti ini dapat membantu anak melihat bahwa usaha belajarnya tidak sia-sia.
5. Berikan Tantangan yang Sesuai Kemampuan
Soal yang terlalu mudah membuat anak cepat bosan, sedangkan soal yang terlalu sulit bisa membuatnya putus asa. Growth mindset tumbuh paling baik ketika anak menghadapi tantangan yang sedikit di atas kemampuannya saat ini, namun masih dapat dicapai dengan usaha. Misalnya, setelah anak lancar mengerjakan soal penjumlahan dasar, ajak ia mencoba soal cerita sederhana. Keberhasilan menaklukkan tantangan kecil seperti ini akan membangun keyakinan bahwa ia mampu berkembang.
6. Jadilah Contoh bagi Anak
Anak belajar banyak dari apa yang ia lihat sehari-hari. Ketika orang tua mudah berkata “ibu memang nggak bisa masak” atau “ayah dari dulu memang payah di matematika”, anak pun meniru cara pandang tersebut. Sebaliknya, tunjukkan bahwa orang tua juga terus belajar, misalnya “ibu belum bisa pakai aplikasi ini, tapi ibu mau coba belajar pelan-pelan”. Sikap sederhana ini menjadi contoh nyata bahwa belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup.
Kemampuan Bisa Dilatih, Bukan Ditentukan Sejak Lahir
Menumbuhkan growth mindset tidak terjadi dalam satu atau dua hari. Akan ada saat ketika anak kembali berkata “aku nggak bisa”, dan itu wajar. Yang terpenting adalah orang tua terus konsisten memberi contoh, mengapresiasi usaha, dan mengingatkan bahwa setiap kemampuan dapat berkembang. Keyakinan ini juga akan semakin kuat ketika anak terbiasa berlatih secara teratur, misalnya dengan membangun rutinitas belajar harian yang dimulai dari 15 menit. Ketika anak percaya bahwa dirinya bisa bertumbuh, ia akan lebih berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan menikmati proses belajarnya.
Tumbuh dan Berkembang Bersama Duta Belajar
Menumbuhkan pola pikir bertumbuh membutuhkan pendampingan yang sabar dan konsisten, sementara tidak semua orang tua memiliki waktu untuk mendampingi anak setiap hari. Di sinilah pendamping belajar profesional dapat menjadi mitra bagi orang tua.
Duta Belajar hadir dengan layanan les privat untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa, dengan keunggulan tentor datang langsung ke rumah. Melalui pembelajaran privat, tentor dapat memberikan tantangan belajar yang sesuai dengan kemampuan setiap siswa, mengapresiasi kemajuan sekecil apa pun, serta membantu anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Anak pun belajar dengan nyaman di lingkungan yang sudah ia kenal, dengan ruang yang luas untuk bertanya, mencoba, dan terus berkembang. Daftar Duta Belajar Sekarang
Referensi
Mustaqimah, A., Muspita, Z., Maharani, A. A., Citria, B. W., & Murdiani, H. P. (2026). Hubungan antara Growth Mindset dengan Prestasi Akademik Siswa SDN 1 Kembang Sari. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(3), 320–329. doi.org/10.23969/jp.v11i03.65117
Purba, M. R., Nurhayani, U., Zainal, A., Putra, P. D., & Thohiri, R. (2026). Pengaruh Growth Mindset dan Student Engagement terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI AKL SMK Negeri 7 Medan. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 11(2), 624–636. doi.org/10.31932/jpe.v11i2.6407
Ferdi A, G., Sulistiana, D., & Sugara, G. S. (2026). The Effect of Growth Mindset on Academic Resilience among Adolescents. Jurnal Bimbingan dan Konseling Pandohop, 7(1), 43–50. doi.org/10.37304/pandohop.v7i1.27306