Membangun Rutinitas Belajar Harian yang Konsisten, Mulai dari 15 Menit
“Nanti saja belajarnya, Bu. Besok kan belum ada ulangan.”
Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi banyak orang tua. Hari ini anak belajar dua jam penuh karena besok ada ulangan, tetapi beberapa hari setelahnya buku pelajaran tidak tersentuh sama sekali. Pola belajar “kebut semalam” seperti ini kerap kali dianggap wajar, padahal materi yang dipelajari secara mendadak cenderung cepat terlupakan.
Permasalahannya sering kali bukan pada kemampuan anak, melainkan pada belum terbentuknya kebiasaan belajar. Tidak sedikit orang tua yang seringkali langsung menargetkan anak belajar satu hingga dua jam setiap hari. Target ini memang terdengar ideal, namun terasa berat untuk dimulai dan sehingga anak terus menunda, dan orang tua pun mulai lelah mengingatkan.
Pentingnya kebiasaan belajar juga tercermin dalam sejumlah penelitian di Indonesia. Penelitian Sukarni dan Wulandini (2024) terhadap 103 siswa SMK di Pekanbaru menemukan bahwa kebiasaan belajar, baik di rumah maupun di sekolah, berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Sementara itu, penelitian Sahriah dan rekan-rekannya (2021) pada siswa sekolah dasar menemukan adanya hubungan yang signifikan antara manajemen waktu belajar dengan prestasi belajar siswa. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pun memasukkan “gemar belajar” sebagai salah satu dari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan pada akhir 2024. Artinya, yang lebih penting adalah seberapa rutin anak belajar dalam setiap harinya, bukan berapa lama anak belajar.
Karena itu, 15 menit setiap hari bisa menjadi titik awal yang jauh lebih realistis. Berikut enam langkah yang dapat dicoba orang tua di rumah.
1. Mulai dari 15 Menit, Bukan Langsung Satu Jam
Bagi anak yang belum terbiasa, belajar satu jam terasa seperti beban besar yang sulit dimulai bahkan terasa menyiksa. Sebaliknya, 15 menit terdengar ringan dan tidak menakutkan. Justru di sinilah kuncinya, langkah pertama yang mudah membuat anak lebih bersedia untuk memulai. Lebih baik anak belajar 15 menit setiap hari selama seminggu, daripada belajar dua jam sekali lalu berhenti sama sekali.
2. Tentukan Waktu yang Sama Setiap Hari
Kebiasaan lebih mudah terbentuk ketika dilakukan pada waktu yang sama. Cobalah mengaitkan waktu belajar dengan kegiatan yang sudah rutin dilakukan anak, misalnya setelah mandi sore, setelah makan malam, atau sebelum waktu bermain. Dengan begitu, anak tidak perlu lagi diingatkan berkali-kali, karena kegiatan sebelumnya sudah menjadi “tanda” bahwa waktunya belajar telah tiba.
Hindari memilih waktu ketika anak sedang sangat lelah atau mengantuk. Setiap keluarga memiliki ritme yang berbeda, jadi pilih waktu yang paling memungkinkan untuk dijalani secara konsisten.
3. Siapkan Tempat dan Bahan Sebelum Mulai
Seringkali waktu belajar yang singkat justru habis untuk mencari pensil, buku catatan, atau lembar tugas. Siapkan tempat belajar yang tenang dan minim gangguan, dan juga pastikan bahan yang dibutuhkan sudah tersedia. Jauhkan juga gadget atau televisi selama 15 menit tersebut. Waktu yang singkat akan terasa jauh lebih efektif ketika anak bisa langsung fokus sejak menit pertama.
4. Isi 15 Menit dengan Kegiatan yang Jelas
Belajar “15 menit” akan lebih mudah dijalani jika anak tahu apa yang harus dikerjakan. Daripada sekadar berkata “ayo belajar”, berikan kegiatan yang spesifik dan sesuai dengan jenjangnya. Misal,
- Membaca satu cerita pendek atau bermain kartu huruf (untuk anak TK)
- Membaca ulang catatan pelajaran hari ini
- Mengerjakan 5 soal latihan
- Menghafal 5 kosakata bahasa Inggris
- Merangkum satu subbab materi (untuk siswa SMP dan SMA)
Kegiatan yang jelas membuat anak tahu kapan tugasnya selesai, sehingga belajar tidak terasa seperti kegiatan tanpa ujung.
5. Tambah Durasi Secara Bertahap
Setelah anak mampu belajar 15 menit secara rutin selama satu hingga dua minggu, durasi dapat ditambah perlahan menjadi 20 atau 25 menit. Namun perlu diingat, jika anak mulai terlihat kehilangan fokus, tidak masalah untuk kembali ke durasi sebelumnya. Tujuan utamanya adalah konsistensi, bukan durasi yang panjang.
6. Catat dan Apresiasi Konsistensinya
Gunakan cara sederhana untuk mencatat konsistensi anak, misalnya kalender yang diberi tanda centang setiap kali anak selesai belajar. Melihat deretan tanda centang yang semakin panjang dapat memberikan rasa bangga dan motivasi tersendiri bagi anak. Berikan pula apresiasi seperti “ibu senang kamu sudah belajar setiap hari minggu ini”, atau memberi reward pada anak.
Lalu bagaimana jika suatu hari anak terlewat belajar? Tidak perlu dimarahi. Kebiasaan dibangun dari pengulangan dalam jangka panjang, sehingga satu hari yang terlewat tidak akan menghapus usaha yang sudah dilakukan sebelumnya. Yang terpenting adalah anak kembali melanjutkan rutinitasnya keesokan hari.
Konsisten Lebih Penting daripada Lama
Membangun rutinitas belajar memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Akan ada hari ketika anak bersemangat, dan ada pula hari ketika ia enggan membuka buku. Namun dengan memulai dari langkah kecil, belajar perlahan akan menjadi bagian alami dari keseharian anak, bukan lagi kewajiban yang harus terus diingatkan. Pada akhirnya, 15 menit yang dilakukan setiap hari akan jauh lebih bermakna dibandingkan berjam-jam belajar yang hanya dilakukan menjelang ujian.
Membangun Kebiasaan Belajar Bersama Duta Belajar
Menjaga rutinitas belajar anak membutuhkan konsistensi, sementara tidak semua orang tua memiliki waktu untuk mendampingi setiap hari di tengah kesibukan pekerjaan dan urusan rumah tangga. Di sinilah pendamping belajar profesional dapat menjadi mitra bagi orang tua.
Duta Belajar hadir dengan layanan les privat untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa, dengan keunggulan tentor datang langsung ke rumah. Jadwal belajar yang tetap bersama tentor dapat membantu anak membangun ritme belajar yang teratur. Melalui pembelajaran privat, tentor juga dapat mengenali kemampuan dan kesulitan setiap siswa secara lebih dekat, sehingga materi dan durasi belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Anak pun belajar dengan nyaman di lingkungan yang sudah ia kenal, tanpa harus menghabiskan waktu di perjalanan.
Referensi
Sukarni, & Wulandini S, P. (2024). Pengaruh Kebiasaan Belajar terhadap Prestasi Belajar Akuntansi dengan Belajar Sebelum Ujian sebagai Variabel Moderator di SMK PGRI Pekanbaru Tahun Pelajaran 2023/2024. Jurnal Pendidikan, 33(3), 669–678. doi.org/10.32585/jp.v33i3.5631
Sahriah, I., Rosmalah, R., & Nurdin, M. (2021). Hubungan Manajemen Waktu Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 90 Mattumpu. JPPSD: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 1(2), 67–74. doi.org/10.26858/pjppsd.v1i2.23521
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Siaran Pers Nomor 13/sipers/A6/I/2025: Sosialisasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat bersama SERUNI Era Kabinet Merah Putih. bpmpprovsumut.kemdikbud.go.id