5 Kesalahan Orang Tua saat Mendampingi Anak Belajar yang Sering Tidak Disadari
“Lho, kok salah lagi? Kan tadi sudah dijelaskan!”
Kalimat seperti ini mungkin pernah terucap ketika mendampingi anak belajar di rumah. Orang tua sudah meluangkan waktu di sela kesibukan dan menjelaskan materi berulang kali. Namun, bukannya semakin paham, anak justru terlihat murung, diam, bahkan menangis.
Niat orang tua untuk mendampingi anak belajar tentu baik. Hanya saja, ada kebiasaan kecil yang sering dianggap wajar, padahal tanpa disadari justru membuat anak tertekan dan semakin enggan belajar. Berikut lima kesalahan yang sering terjadi.
1. Terlalu Fokus pada Nilai
“Dapat berapa ulangannya tadi?” Pertanyaan ini sering menjadi hal pertama yang ditanyakan orang tua ketika anak pulang sekolah. Wajar, karena nilai adalah hasil yang paling mudah dilihat. Namun, jika nilai selalu menjadi yang utama, anak perlahan menyimpulkan bahwa belajar hanyalah soal angka, bukan proses memahami.
Penelitian dari Columbia University menunjukkan hal serupa. Siswa yang dipuji karena kecerdasannya cenderung lebih mementingkan hasil, lebih cepat menyerah saat gagal, dan performanya menurun dibandingkan siswa yang dipuji karena usahanya. Cobalah sesekali mengganti pertanyaan menjadi “ada materi yang masih bikin bingung?” agar anak tahu orang tua peduli pada proses belajarnya.
2. Terlalu Sering Membandingkan
“Ituloh temanmu, dia bisa dapat seratus.” Kalimat perbandingan seperti ini biasanya diucapkan dengan tujuan agar anak termotivasi. Sayangnya, anak sering tidak menangkap pesan “ayo semangat”, melainkan “aku tidak sebaik mereka”. Jika terus berulang, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa usahanya tidak pernah cukup.
Setiap anak tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Ukuran yang lebih adil adalah membandingkan anak dengan dirinya sendiri, misalnya “minggu lalu kamu masih bingung perkalian, sekarang sudah bisa mengerjakan sendiri”. Pengakuan atas perkembangan kecil seperti ini jauh lebih membangun dibandingkan tuntutan untuk menyamai orang lain.
3. Memaksa Anak Terus Belajar
Banyak orang tua beranggapan bahwa semakin lama anak belajar, ka hasilnya akan seakin baik. Padahal, kemampuan anak untuk berkonsentrasi memiliki batas, dan batas itu berbeda sesuai usianya. Setelah melewati batas tersebut, anak mungkin masih terlihat membaca, tetapi materi sudah tidak benar-benar masuk atau bahkan hanya melamun.
Jeda bukan tanda anak malas, melainkan kebutuhan agar otak refreshing. Cobalah membagi waktu belajar menjadi sesi-sesi pendek, misalnya 25 menit belajar lalu 5 menit istirahat. Belajar yang singkat tetapi fokus sering kali lebih efektif dibandingkan belajar lama dalam kondisi lelah dan terpaksa.
4. Langsung Menyalahkan Saat Anak Salah
Ketika anak salah menjawab soal yang dianggap mudah, reaksi seperti menghela napas, nada suara meninggi, atau berkata “gitu aja kok gabisa” kerap muncul begitu saja. Reaksi ini bisa membuat anak takut salah, lalu memilih diam ketika tidak paham atau menebak jawaban asal-asalan.
Padahal, kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Dari kesalahan, orang tua justru dapat melihat bagian mana yang belum dipahami anak. Daripada langsung menyalahkan, ajak anak menelusuri jawabannya, misalnya dengan bertanya “coba ceritakan, tadi kamu mengerjakannya bagaimana?”. Dengan cara ini, anak belajar memperbaiki kesalahannya sendiri dan merasa aman untuk mencoba lagi.
5. Menggunakan Cara Belajar yang Sama untuk Semua Anak
Cara belajar yang berhasil untuk kakak belum tentu cocok untuk adiknya. Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan yang berbeda dalam memahami sesuatu. Ketika anak dipaksa mengikuti satu cara yang sama, belajar terasa berat dan anak bisa dicap “susah diajari” ketika tidak mampu mengikutinya, padahal yang perlu disesuaikan adalah caranya.
Prinsip ini juga menjadi dasar pembelajaran berdiferensiasi yang didorong Kementerian Pendidikan, yaitu menyesuaikan pembelajaran dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Ketika di rumah, orang tua dapat mulai dengan mengamati materi yang sudah dikuasai anak dan hal apa yang ia sukai, lalu memvariasikan metodenya, misalnya dengan gambar, diskusi, atau benda nyata di sekitar rumah.
Mendampingi Bukan Berarti Menuntut
Kelima kesalahan di atas memiliki benang merah yang sama, yaitu pendampingan yang berangkat dari tuntutan, bukan dari pemahaman terhadap kebutuhan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan yang terpenting adalah kesediaan untuk menyadari dan memperbaikinya. Karena pada akhirnya, mendampingi anak belajar bukan soal menuntut lebih, tetapi memahami apa yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Belajar Sesuai Kebutuhan Anak Bersama Duta Belajar
Memahami kebutuhan belajar anak memang membutuhkan waktu dan kesabaran, sementara tidak semua orang tua dapat mendampingi anak setiap hari di tengah kesibukan. Di sinilah pendamping belajar profesional dapat menjadi mitra bagi orang tua.
Duta Belajar hadir dengan layanan les privat untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa, dengan keunggulan tentor datang langsung ke rumah. Melalui pembelajaran privat, tentor dapat mengenali kemampuan dan kesulitan setiap siswa secara lebih dekat, sehingga metode belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Anak pun belajar dengan nyaman di lingkungan yang sudah ia kenal, tanpa tekanan, dan dengan ruang yang luas untuk bertanya maupun melakukan kesalahan.
Referensi
Mueller, C. M., & Dweck, C. S. (1998). Praise for Intelligence Can Undermine Children's Motivation and Performance. Journal of Personality and Social Psychology, 75(1), 33–52. PubMed
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Guru Berbagi. Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid. ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id