Parenting

Anak Sulit Diajak Belajar? Berikut 7 Cara Mendampingi Belajar Anak Tanpa Membuatnya Tertekan

Admin Duta Belajar
20 Sep 2026 5 min read
Anak Sulit Diajak Belajar? Berikut 7 Cara Mendampingi Belajar Anak Tanpa Membuatnya Tertekan

“Sudah Waktunya Belajar, ayo belajar nak!”

Kerap kali ajakan seperti itu justru tidak digubris oleh anak, bukannya mengambil buku untuk belajar, anak justru menjawab “nanti saja”. Sembari melanjutkan bermain, beberapa menit kemudian ketika diingatkan kembali, justru ia mulai mengeluh, kehilangan mood, atau bahkan marah. Situasi ini kemungkinan besar pernah dialami oleh seluruh orang tua. Tidak selalu mudah mengajak anak belajar, apalagi ketika ia telah terbiasa bahwa belajar identik dengan tugas, hafalan, atau tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi. Padahal kenyataannya, belajar seharusnya menjadi proses untuk mengenal, memahami, mencoba, dan berkembang. Anak membutuhkan pendampingan dimana mereka merasa didukung dan aman, bukan terus-terusan merasa dituntut.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak. Dalam pembelajaran anak usia dini, misalnya, pendekatan yang berpusat pada anak dan kegiatan bermain dapat membantu menumbuhkan rasa ingin tahu serta pengalaman belajar yang positif. Lalu, apa yang dapat dilakukan orang tua ketika anak sulit diajak belajar? Berikut tujuh cara yang dapat dicoba.

1. Cari Tau Mengapa Anak Tidak Mau Belajar

Sebelum beranjak untuk memaksa anak membuka buku atau memarahinya, cobalah cari tau penyebabnya. Kemungkinan anak merasa lelah setelah sekolah, atau bisa juga karena merasa materi pelajaran terlalu sulit, tidak memahami tugas yang diberikan, bahkan mungkin merasa bosan dengan cara belajar yang selama ini dilakukan. Pada anak yang beranjak dewasa atau remaja, problem tersebut bisa berbeda. Bisa jadi mereka merasa tertinggal dengan teman-temannya atau kehilangan motivasi karena berulang kali mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Karena itu pertanyaan sederhana seperti “bagian mana yang terasa sulit?” bisa lebih membantu menaikkan mood anak atau bahkan membuat anak merasa diperhatikan daripada pernyataan “kenapa kamu malas belajar terus?” dengan mengetahui penyebabnya orang tua dapat menentukan pendampingan apa yang kiranya dibutuhkan oleh anak.

2. Hindari Menjadikan Nilai Sebagai Satu-Satunya Acuan Ukuran

Nilai memang penting dalam pendidikan, namun bukan satu satunya acuan untuk menentukan keberhasilan belajar anak. Kemampuan memahami konsep, berani bertanya dan konsisten dalam berlatih, serta mampu belajar mandiri juga merupakan bagian dari perkembangan anak. Acapkali orang tua mengapresiasi anak ketika ia hanya mendapatkan nilai tinggi ketika ujian atau rapor hasil belajar, sehingga anak bahwa nilai merupakan satu-satunya hal yang berharga. Sebaliknya orang tua juga harus mengapresiasi proses belajar anak seperti “ibu lihat kamu tadi sudah berusaha mengerjakan soal ini sampai selesai” atau “tadi kamu belum bisa memahaminya, tapi sekarang sudah terbiasa”. Sedikit apresiasi ini bisa memberikan anak motivasi dan anggapan bahwa usaha dan proses belajar juga mempunyai sebuah nilai.

3. Buat Target Belajar yang Realistis

Salah satu alasan anak enggan belajar adalah karena tugas yang harus diselesaikan terlalu banyak. Daripada memaksa anak untuk mengerjakan semua tugas yang waktu pengumpulannya masih lama, buatlah target yang lebih sederhana. Misal,

  1. Membaca satu materi
  2. Mengerjakan 5 soal
  3. Menghafal 5 kosakata
  4. Belajar 25-30 menit kemudian istirahat

Target yang realistis membuat tugas terasa lebih mudah dimulai.

4. Berikan Anak Kesempatan Bertanya

“Kenapa ini jawabannya begitu?”, “mengapa harus menggunakan rumus ini?”, “kalau caranya berbeda, boleh tidak?” pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan bentuk dari proses anak dalam belajar. Sayangnya anak terkadang terlalu takut untuk bertanya karena takut dianggap salah atau dianggap tidak mengerti. Padahal kesalahan juga merupakan bagian dari proses belajar. Lingkungan belajar yang baik memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, melakukan kesalahan, dan kemudian memperbaikinya. Jika anak merasa nyaman bertanya, baik orang tua maupun tentor akan memahami letak bagian yang belum dipahami anak.

5. Hindari Membandingkan Anak dengan Teman atau Saudaranya

Kalimat-kalimat seperti “lihat, kakamu saja bisa”, atau “temanmu saja mendapat nilai bagus, kenapa kamu tidak bisa seperti mereka?” mungkin muncul karena orang tua bermaksud untuk memotivasi anak. Namun dengan terus menerus membandingkannya menjadikan anak merasa dirinya kurang mampu. Perlu dipahami setiap anak memiliki kemampuan, minat belajar, dan karakter yang berbeda. Daripada membandingkan ia dengan saudara atau temannya, lebih baik bandingkan ia dengan dirinya sendiri. Jika sebelumnya hanya bisa mengerjakan dua soal dan sekarang mampu menyelesaikan lima soal, itu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Fokus pada perkembangan kecil inilah yang membantu anak membangun rasa percaya diri.

6. Ciptakan Suasana Belajar yang Nyaman

Lingkungan belajar juga dapat mempengaruhi kesiapan anak untuk belajar. Tidak perlu memiliki ruang belajar sendiri. Cukup dengan menciptakan tempat belajar yang relatif tenang, memiliki pencahayaan yang cukup, dan minim dari gangguan. Pendekatan seperti ini selaras dengan gagasan pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat dari proses belajar. Sehingga hal seperti lingkungan merupakan penyokong dalam proses tersebut.

7. Jika Orang Tua Kesulitan, Jangan Ragu Meminta Bantuan

Tidak semua orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anak belajar setiap harinya. Ada orang tua yang harus bekerja dari pagi hingga sore. Ada yang haru mengurus rumah tangga, dan ada yang merasa kesulitan menjelaskan materi tertentu karena kurikulum dan materi belajar anak yang sudah semakin kompleks. Dalam kondisi ini, meminta bantuan seperti mencari pendamping belajar anak bukan berarti orang tua gagal mendampingi anak. Justru mencari pendamping belajar merupakan bentuk perhatian orang tua dalam proses belajar anak. Pendamping profesional dapat memahami apa yang anak butuhkan, mulai dari memberi latihan-latihan, mengidentifikasi kesulitan belajar, hingga menjelaskan materi sesuai kurikulum.

DutaBelajar Hadir dengan Kosep Tentor datang Ke Rumah

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan orang tua adalah les privat dengan tentor datang langsung ke rumah. Berbeda dengan pembelajaran dalam kelompok besar, les privat memberikan kesempatan kepada tentor untuk lebih fokus pada kebutuhan satu siswa. Ketika anak belum memahami suatu materi, tentor dapat memberikan penjelasan ulang. Ketika anak sudah menguasai materi tertentu, pembelajaran dapat dilanjutkan ke materi berikutnya. Untuk membantu orang tua memberikan pendampingan belajar yang lebih personal, Duta Belajar menyediakan layanan les privat untuk siswa TK, SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa dengan keunggulan utama tentor datang langsung ke rumah siswa. Layanan ini dirancang untuk membantu siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan jenjang pendidikannya. Dengan pembelajaran secara privat, tentor memiliki kesempatan untuk mengenali kesulitan siswa secara lebih dekat. Orang tua pun dapat memperoleh pendampingan tambahan tanpa harus mengubah seluruh rutinitas keluarga. Terutama bagi orang tua yang tidak sempat mengantar anak ke tempat bimbingan belajar.